oleh

Mencari Sunan Kalijaga

Oleh: Moh. Rasyid

Bicara soal islamisasi di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, keberadaannya tidak lepas dari peran penting Wali Songo. Wali Songo, oleh sebagian besar pakar sejarah kebudayaan Islam, diperkiraan hidup pada abad ke-15 hingga pertengahan abad 16 di pantai selatan Jawa. Sembilan ulama hebat ini bermukim di tiga wilayah penting; yaitu di Jawa Timur (mencakup Surabaya, Gresik, dan Lamongan), Jawa Tengah (mencakup Demak, Kudus, dan Muria), serta di Cirebon Jawa Barat.

Wali Songo sebagai icon tokoh Islam klasik sukses memformulasikan metode dakwah Islam yang kompatibel dengan ruang dan waktu. Sehingga Islam hadir dan mudah diterima oleh sebagian besar masyarakat Jawa yang ketika itu mayoritas beragama Hindu-Buddha atau Siwa-Buddha. Salah satu tokoh penting dari Wali Songo ini adalah Sunan Kalijaga.

Nama aslinya Raden Said. Raden Said muda tak lain adalah keturunan seorang Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatika atau Raden Sahur. Banyak versi yang menyebutkan secara berbeda tentang nama Raden Said; Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban dan Raden Abdurrahman. Sedangkan nama Sunan Kalijaga sendiri, diperolehnya setelah ia sukses menyelesaikan tantangan dari gurunya, Sunan Bonang.

Asal-usul nama Kalijaga menurut masyarakat Cirebon berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon, Jawa Barat. Konon, Raden Said sering berdiam diri di sungai, atau dalam bahasa jawa adalah ‘jogo kali’.

Sebelum menjadi Wali Songo, Raden Said muda adalah seorang perampok hasil bumi dan hasil rampokannya itu diberikan kepada kaum dhuafa. Suatu hari, saat ia berada di tengah hutan belantara, bertemu dengan seorang kakek tua yang membawa tongkat yang terlihat seperti emas. Kakek tua itu adalah Sunan Bonang. Kenyataan tersebut membuat Raden Said ingin melancarkan tindakan kejinya, yaitu merampok. Dirampoklah itu tongkat. Sunan Bonang tidak membenarkan tindakan tersebut, lalu ia berkata kepada Raden Said bahwa Allah SWT tidak menerima amal yang buruk. Kemudian Sunan Bonang menasihati Raden Said, dan pada saat yang bersamaan Raden Said insaf dan bersedia menjadi murid Sunan Bonang.

Akhirnya Sunan Bonang memerintahkan Raden Said untuk bersemedi sembari menjaga tongkat yang ditancapkan di tepi sungai. Raden Said tidak boleh pergi sebelum Sunan Bonang kembali. Singkat cerita, setelah Tiga tahun berlalu, Sunan Bonang datang dan Raden Said masih menjaga tongkat tersebut. Pada saat itulah Sunan Bonang memberi nama Raden Said dengan nama Kalijaga.

Sunan Kalijaga terbilang cukup tinggi ilmunya dan memiliki strategi dakwah yang dapat berasimilasi dengan kultur budaya lokal. Ditengah masyarakat yang masih kental dengan kultur budaya Hindu-Buddha kala itu, pelan-pelan Sunan Kalijaga mulai memasukkan nilai-nilai Islam melalui jalur kebudayaan. Inilah yang pada gilirannya disebut akulturasi antara kebudayaan lokal dengan nilai-nilai etis Islam.

Komentar

Terbaru