oleh

Teladan yang Baik

Oleh: EJB
Tulisan untuk Gus Muwafiq

Dikisahkan dalam Buku Muhammad: Nabi untuk Semua, Nabi Muhammad saw. terpaksa berutang kepada seorang Yahudi Madinah, Zaid bin Sa’nah, untuk sebuah keperluan. Mereka berdua kemudian sepakat bahwa tanggal sekian utang harus dilunasi. Nahasnya, tiga hari sebelum jatuh tempo Zaid bin Sa’nah sudah menagih pembayaran utang Nabi Muhammad saw “Hai Muhammad, mengapa engkau tidak membayar utangmu?” kata Zaid bin Sa’nah kepada Nabi Muhammad saw dengan nada tinggi, kemudian dilanjutkan dengan kata-kata kasar dan penuh hujatan, dan itu dilakukan depan orang banyak.

Saat Zaid bin Sa’nah melabrak Nabi Muhammad saw., ada Umar bin Khattab di samping. Mendengar hal itu, Umar bin Khattab yang dikenal keras dan tegas memarahi kembali Zaid bin Sa’nah. Ketika Umar hendak memukul Zaid bin Sa’nah, Nabi Muhammad saw. melerainya. Nabi Muhammad saw, lalu meminta Umar untuk menasihatinya dan Zaid bin Sa’nah.

“Katakan padaku untuk membayar utang dengan benar. Dan katakan kepada Zaid bin Sa’nah untuk menagih utang dengan cara yang lebih baik,” kata Nabi Muhammad saw. Umar langsung tersadarkan. Apakah cukup sampai begitu saja. Tidak. Nabi Muhammad saw. juga menyuruh Umar agar memberi 20 sa’ash (sekitar 40 kilogram) kurma untuk Zaid bin Sa’nah karena Umar telah membuatnya ketakutan.

Saya nukilkan sepenggal kisah keagungan pribadi Rasul agar kita bisa menarik hikmah? Tingginya spiritual Rasul adalah beliau mengerti siapa orang itu dan mengerti setiap orang punya hak mengungkapkan perspektif nya sendiri. Dengan begitu maka Rasul dapat bijak menyikapi persoalan dengan mengabaikan rasa tersinggung dan marah dihujat depan orang ramai dan focus kepada solusi secara adil. Itulah cinta. Itulah kasih. Mengapa ? tidak mudah untuk mengerti orang lain kalau masih ada sifat ego dan sombong dalam diri kita.

Kisah ini menjadi inspirasi saya untuk menghadapi sikap orang lain. Saya bisa memisahkan mana kebencian buta dan mana kebencian ketidak sukaan, dan mana kebencian rasa kawatir atau rasa tidak aman. Kebencian buta, saya hadapi dengan senyum. Mengapa ? orang membenci buta itu artinya dia orang gila. Mengapa? dia tidak tahu apa apa tentang saya, namun merasa berhak menilai dan membenci saya karena informasi yang bias.

Orang membenci karena tidak suka, juga saya sikapi dengan senyum. Mengapa? karena dia lemah dan merasa tidak mampu seperti saya tapi sangat ingin seperti saya. Maka apapun yang saya lakukan dia tidak suka. Orang yang membenci karena rasa kawatir, itu saya cintai. Mengapa ? karena dia butuh saya dan begitulah cara dia bersikap, walau dengan letupan emosi terkesan membenci.

Aneh nya, dikita sekarang, merasa lebih Rasul daripada Rasul, Sediki sedikit tersinggung kalau perspektif orang lain tentang agama berbeda dengan kita. Langsung tersinggung dan lapor ke Polisi, terus demo. Saya rasa kita tidak sedang meneladani akhlak agung Rasul. Tidak sedang meninggikan syiar islam. Tetapi justru sedang mempertontonkan rendahnya Akhlak kita sendiri dihadapan orang lain. Itu sama dengan benci karena ketidak sukaan. Itulah yang menimpa Gus Muwafiq. Orang tidak suka dengannya karena sebetulnya mereka ingin seperti beliau tapi tidak mampu. Makanya yang bisa dilakukan adalah kebencian tak berujung. Sedikit ada masalah, akan menjadi besar dan dibesarkan. Sabar ya Gus.

Komentar

Terbaru